APJATEL Gagas OVC Jaringan Fiber Optik untuk Efisiensi dan Percepatan Infrastruktur Nasional

  • Home
  • BERITA
  • Berita
  • APJATEL Gagas OVC Jaringan Fiber Optik untuk Efisiensi dan Percepatan Infrastruktur Nasional

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) mengusulkan pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) sebagai solusi inovatif untuk menyehatkan penggelaran jaringan fiber optik di Indonesia, menjanjikan efisiensi biaya dan percepatan pemerataan.

Asosiasi Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi (APJATEL) menggagas pembentukan Operating Vehicle Company (OVC) sebagai solusi. Inisiatif ini bertujuan untuk menyehatkan penggelaran jaringan fiber optik di Indonesia. Saat ini, biaya penggelaran infrastruktur telekomunikasi dinilai masih sangat tinggi.

Ketua Umum APJATEL, Jerry Mangasas Swandy, menyampaikan gagasan ini dalam sebuah diskusi di Jakarta Selatan pada Kamis, 10 April. OVC akan berperan sebagai entitas netral yang mengelola infrastruktur telekomunikasi pasif secara bersama. Tujuannya adalah membangun kolaborasi antara pelaku industri dan pemerintah demi menyelaraskan pekerjaan penggelaran.

Jerry Mangasas Swandy menekankan bahwa infrastruktur telekomunikasi adalah tulang punggung ekonomi digital dan layanan publik modern. Oleh karena itu, sinergi kuat antara pemerintah dan industri sangat diperlukan. Sinergi ini akan memastikan pengelolaan infrastruktur tidak hanya efisien tetapi juga berorientasi pada kepentingan publik.

OVC: Solusi Kolaboratif untuk Jaringan Fiber Optik Nasional
OVC digagas sebagai entitas netral yang akan mengelola infrastruktur telekomunikasi pasif secara bersama, mendorong kolaborasi antara industri dan pemerintah. Tujuan utamanya adalah menyelaraskan pekerjaan penggelaran jaringan fiber optik, yang merupakan tulang punggung ekonomi digital. Jerry Mangasas Swandy menekankan pentingnya sinergi kuat untuk pengelolaan efisien.

Prinsip utama OVC adalah pengelolaan infrastruktur digital dengan akses terbuka. Ini berarti jaringan fisik yang dibangun nantinya dapat dimanfaatkan oleh lebih dari satu penyelenggara layanan telekomunikasi. Konsep ini diharapkan dapat menekan biaya investasi jaringan fiber optik secara signifikan.

Efisiensi biaya yang ditargetkan melalui implementasi OVC ini cukup besar, diperkirakan mencapai 40 hingga 60 persen. Selain penghematan biaya, kehadiran OVC juga diharapkan mampu mendorong percepatan perluasan jaringan fiber optik di seluruh Indonesia. Ini krusial untuk pemerataan akses internet.

Dukungan Kemkomdigi dan Syarat Implementasi OVC
Gagasan pembentukan OVC oleh APJATEL mendapat sambutan positif dari Kemkomdigi. Direktur Akselerasi Infrastruktur Digital Kemkomdigi, Mulyadi, menyatakan kesiapan pemerintah untuk berkolaborasi dalam mewujudkan OVC di Indonesia. Kolaborasi ini penting untuk memastikan keberhasilan inisiatif strategis ini.

Untuk merealisasikan OVC, beberapa langkah kolaborasi akan dilakukan. Ini meliputi perumusan standar teknis pedoman infrastructure sharing dan pendorongan implementasi sistem akses terbuka. Selain itu, merumuskan kualifikasi kontraktor dan instalator penggelaran fiber optik juga menjadi prioritas. Tujuannya agar jaringan fiber optik tertata rapi dan tidak mengganggu estetika kota.

Mulyadi menegaskan bahwa OVC harus berpegang pada prinsip open access dan nondiskriminatif. Hal ini penting untuk menciptakan persaingan usaha yang sehat di industri telekomunikasi. Ia juga memperingatkan bahwa OVC tidak boleh menjadi bentuk baru dari monopoli terselubung yang dapat menghambat penggelaran infrastruktur.

Transparansi menjadi kunci utama menurut Mulyadi. OVC harus mampu membuat penggelaran jaringan fiber optik semakin transparan bagi semua pelaku industri. Ini akan memastikan keadilan dan mendorong partisipasi luas dari berbagai pihak.

Sumber: https://www.merdeka.com/peristiwa/apjatel-gagas-ovc-jaringan-fiber-optik-untuk-efisiensi-dan-percepatan-infrastruktur-nasional-560185-mvk.html?page=3